
Cerita orang pertama · Maya, 30 tahun · pekerja lepas desain di Surabaya
Sebagai pekerja lepas, pemasukan saya tidak selalu datang tanggal yang sama. Hari ketika pembayaran klien terlambat sering membuat saya cemas. Dalam kondisi itu saya mulai percaya pada iklan yang menjanjikan jalan pintas.
Saya pernah bekerja sampai larut, lalu menghabiskan sebagian pembayaran proyek untuk bermain. Yang paling melelahkan bukan jumlah uang yang hilang, tetapi perasaan harus segera memperbaikinya sebelum ada tagihan berikutnya.
Ketika pekerjaan menumpuk, saya justru makin sering menunda. Jari saya otomatis berpindah ke halaman permainan. Saya akhirnya menyadari bahwa dorongan itu sering muncul bukan karena saya ingin bersenang-senang, melainkan karena saya takut menghadapi tugas.
Saya membuat catatan tempel di dekat meja: “Tunda sepuluh menit, minum air, pindah tempat.” Pertama kali mencoba, saya tetap gelisah. Namun setelah beberapa kali, saya melihat bahwa kecemasan bisa berkurang tanpa saya harus bertaruh.
Saya meminta seorang teman untuk menjadi orang yang boleh saya hubungi ketika pikiran mulai kacau. Saya juga memisahkan rekening untuk kebutuhan pokok dan menutup notifikasi yang memicu keinginan bermain.
Pernah saya hampir mengulangi kebiasaan lama ketika proyek dibatalkan. Saya menangis sebentar, menelepon teman, lalu mencari bantuan untuk belajar menghadapi stres. Saya tidak merasa kuat setiap hari, tetapi saya mulai punya pilihan lain.
Sekarang saat menunggu kabar klien, saya lebih sering membuka daftar pekerjaan atau keluar mengambil udara segar. Saya masih mengelola kecemasan, tetapi tidak lagi menganggap permainan sebagai jawaban untuk setiap masalah.
Langkah yang bisa dipelajari
Cerita ini menggambarkan pentingnya menyadari dampak, mengurangi pemicu, memprioritaskan kebutuhan keluarga, dan mencari dukungan. Proses setiap orang berbeda dan tidak ada jaminan perubahan terjadi seketika.
